Tampilkan postingan dengan label Lifestyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lifestyle. Tampilkan semua postingan

07 Agustus 2016

Cara Bikin Paspor Online, Cepat dan Mudah



Pertama silakan kunjungi website Direktorat Jendral Imigrasi. Cari di menu layanan publik, silakan masuk ke Layanan Paspor Online. Nah, kemudian klik dibagian Pra Permohonan Personal. Sebagai informasi awal, sistem online hanya melayani pembuatan paspor 48 halaman. Menurut salah seorang petugas yang saya tanyakan paspor 48 halaman adalah paspor untuk pelancong. Sedangkan paspor 24 halaman diperuntukan bagi pekerja. Tetapi di website imigrasi disebutkan yang membedakan keduanya hanya pada halamannya saja. Fungsinya tetap sama. Ok, lanjut ke prosedur pembuatan paspor online. Silakan tentukan di kantor mana kita akan mengurusnya. Setelah diisi kemudian klik “lanjut” menuju halaman seperti di bawah ini,

Isi semua data sesuai dengan identitas diri seperti KTP. Jika ada kesalahan data pada KTP lebih baik kita mengacu pada data yang ada di Kartu Keluarga (KK) atau Akte Kelahiran/Ijazah. Kebetulan data diri saya di KTP ada kesalahan yaitu NIK dan tanggal lahir. Akhirnya saya menggunakan NIK yang ada di KK.
Setiap kolom yang ada tanda asterix merah berarti wajib kita isi. Termasuk alamat email karena nanti kita akan dikirim beberapa dokumen lanjutan. Ketika pada kolom alamat isi sesuai alamat di KTP. Jangan lupa isi juga nomor HP.
Setelah selesai semuanya maka muncul tampilan konfirmasi. Cek beneranan data yang sudah kita berikan, apakah sudah betul atau belum. Di sini juga tertera biaya yang harus kita bayarkan. Jika semua sudah oke, maka klik saja ‘selanjutnya’. Tertera kantor imgrasi pilihan kita dan kolom caphtcha. Jika telah selesai tunggu saja sekitar 5-10 lalu cek email kita.


Nanti akan masuk email dari pihak imigrasi. Ada lampiran dalam bentuk Pdf yang harus kita cetak yaitu bukti pengantar ke Bank. Nah, silakan bawa bukti tersebut ke Bank BNI, jangan bawa yang uang pas karena nanti ada biaya administrasi sebesar 5 ribu.

Setelah membayar dan mendapat bukti pembayaran kemudian buka kembali email yang dikirim dari SPRI (imigrasi). Di sana ada link (Lanjut) yang akan masuk pada halaman di mana kita harus memasukan nomor jurnal bank. Setelah itu silakan tentukan hari dan tanggal berapa kita akan datang ke kantor imigrasi.
Tanda bukti pembayaran dan nomor jurnal bank
Setelah itu kita akan mendapat email kembali berisi konfirmasi tanggal berapa kita harus datang ke kantor imigrasi. Pada email ini terdapat attachment berupa file PDF silakan dicetak, total ada 3 halaman. Lembar pertama adalah Tanda Terima Permohonan kemudian Formulir Surat Perjalanan Republik Indonesia Untuk Warga Negara Indonesia. Ada kolom-kolom kosong di situ dan kita tidak perlu mengisinya.
Sekarang tinggal mempersiapkan dokumen yang harus dibawa saat pengajuan paspor.
1. Kartu identitas diri (KTP)
2. Kartu Keluarga (KK)
3. Pilih salah satu Akte Lahir, Ijazah, Surat Nikah, atau Surat Baptis
4. Bukti pembayaran dan Surat pengantar pembayaran ke Bank
5. Surat konfirmasi
6. Jika ada perbedaan data di KTP dengan KK silakan minta surat keterangan dari kelurahan/Desa.
Semua dokumen harus difotokopi dalam ukuran A4. Jadi nanti yang dibawa dokumen asli dan fotokopiannya.

Pada hari H saya datang ke Kantor Imigrasi pukul 07.30 pagi, dan sudah terlihat ramai. Pertama-tama adalah mengambil nomor antrian pengecekan dokumen. Antrian untuk pengajuan manual dan online ternyata dibedakan. Saya melalui jalur online mendapat antrian nomor 7, sedangkan di bagian pengajuan paspor manual sudah masuk antrian ke 58. Layanan imigrasi sendiri baru buka pukul 8. Oh ya, hendaknya berpakaian yang sopan dan mengenakan sepatu. Warna baju jangan putih karena background foto kita nanti putih. Saya sendiri mengenakan batik, ya sebagai bagian dari identitas diri sebagai Bangsa Indonesia.

Pukul 8 teng, layanan dibuka. Ada 3 bagian pengecekan dokumen yaitu manual, lansia, dan online. Sepuluh menit kemudian nomor saya dipanggil. Ternyata fotokopi KK dan surat baptis saya ukurannya bukan A4, jadi terpaksa fotokopi dulu.
Pengecekan dilakukan dengan cepat, dilihat ada perbedaan tanggal lahir dan nomor NIK KTP dengan di KK. Tapi karena saya sudah membawa surat keterangan dari Kelurahan jadinya tidak masalah.
Setelah itu semua dokumen yang dibutuhkan dimasukan ke dalam map khusus lalu diberi nomor antrian baru. Di muka map kita tuliskan Nama, Alamat dan Nomor telepon. Tinggal tunggu panggilan.

Ada 10 loket yang tersedia tapi yang dibuka hanya 8 saja waktu itu. Sebagian besar pemohon menunggu sambil bermain gadget mereka. Saya yang kelupaan bawa Hp dan buku hanya nonton tv saja. Tidak perlu menunggu lama akhirnya nomor saya dipanggil.
Pertama saya ditanya apakah sudah pernah membuat paspor dan saya jawab saja belum pernah. Kemudian ditanyakan akan pergi kemana. Setelah itu petugas meminta dokumen asli untuk dicocokan. Ngeceknya cepat saja, seperti hanya formalitas. Setelah itu diambil semua sidik jari kita kemudian foto. Terakhir slip Tanda Bukti Pembayaran Imigrasi yang dari bank diberikan kepada saya yang harus dibawa saat pengambilan paspor.
“Kapan jadinya pak? tanya saya.
“3-4 hari, tunggu saja nanti ada SMS”

Saya lihat waktu belum menunjukan pukul 9. Jadi dari saya datang sampai keluar kantor imigrasi hanya makan waktu 1,5 jam saja. Cepat sekali bukan?
Manfaat dari sistem online ini, kita bisa mengisi data dengan santai di rumah. Tidak perlu datang terlalu pagi untuk mengejar antrian. Menurut beberapa teman paspor online juga lebih cepat jadi. Kita juga bisa mengecek lewat internet apakah paspor kita sudah jadi atau belum.
Dua hari setelah pengurusan paspor saya menerima SMS yang memberitakan paspor saya sudah jadi. Sayangnya saya baru buka Hp sore hari jadi terlambat tahunya. Karena hari itu Jumat jadi terpaksa Senin baru saya ambil. Saya coba cek via internet ternyata memang paspor saya sudah jadi.
Senin pagi ternyata loket pengambilan paspor kantor imigrasi sudah ramai. Layanan dibuka pukul 08.00 sampai pukul 16.00 khusus hari Jumat sampai 16.30. Masukan slip bukti pembayaran ke kotak. Tinggal tunggu dipanggil, tidak sampai 15 menit paspor sudah ditangan. Mudah dan cepat bukan? Tidak perlu lagi menggunakan jasa calo yang tentu saja jauh lebih mahal.

25 Maret 2016

Nongkrong di IGD


IGD atau Instalasi Gawat Darurat buat sebagian besar dari kita adalah tempat yang patut dihindari. Amit-amitlah, jangan sampai masuk ke sana. Instalasi atau unit yang berada di di Rumah Sakit itu tentu saja bukan tempat yang menyenangkan. IGD atau UGD adalah sebuah tempat yang jangan sampai terlintas dalam pikiran kita. Sedemikian ‘horor’nya IGD bagi kita? Tentu saja, namanya saja ada embel-embel “Gawat Darurat”. Masuk ke sana bisa mengakibatkan kecemasan tingkat tinggi. Bisa tentang hidup-mati seseorang. Entah kita sendiri yang harus masuk ke situ atau kerabat.

Akhir tahun lalu saya harus beberapa kali mengantar kerabat yang sakit malam-malam ke rumah sakit. Masuk IGD rumah sakit yang biasa sampai rumah sakit terbesar di Palembang. Walau bukan diri sendiri yang saki, tetapi memang nyatanya bukan sebuah pengalaman yang menyenangkan. Dulu, dulu sekali ketika masih aktif menjadi relawan, mengantar orang masuk IGD sama sekali tanpa perasaan apa-apa. Ketika itu bersama unit ambulan boleh dikatakan cukup sering membawa korban kecelakaan atau rekan kampus ke IGD untuk pertolongan lanjutan setelah dilakukan pertolongan pertama.

Nongkrong di IGD ternyata membuka pikiran tentang beberapa hal. Satu yang terpenting bahwa HIDUP adalah sesuatu yang paling berharga di dunia ini. Apa yang orang cari baik itu pasien maupun paramedis adalah penyelamatan agar orang tetap hidup. Rumah sakit besar itu memiliki fasilitas yang cukup lengkap untuk segala penanganan. Ya tidak jauh dengan apa yang kita lihat di serial “ER”. Pasien dengan berbagai keluhan bisa disaksikana di sana. Beragam pemandangan bisa disaksikan. Mulai ambulan datang membawa seseorang dengan tubuh penuh luka. Bisa dipastikan dia korban kecelakaan.

Di salah satu bilik, terlihat seorang wanita dengan raut wajah sedih, sibuk mengurut-urut dahi istrinya yang tergolek lemah karena vertigo. Sedang anak perempuan mereka mengurut kaki ibunya. Tidak jauh dari situ tampak beberapa orang mengerubungi seorang pasien tua. Tersanding disebelahnya beberapa alat medis elektronik dengan suara ‘beep-beep’ yang memenuhi ruangan IGD. Dari balik tirai terlihat seorang wanita setengah-baya duduk ditepi tempat tidur. Ia begitu khusuk mendaraskan doa-doa. Matanya terpejam, tangannya bergerak pelan mengurutkan butir-butir tasbih Rosario. Dokter jaga dan para perawat begitu sigap menangani pasien seolah berpacu dengan waktu. Tidak ketinggalan petugas sekuriti yang harus rangkap jabatan dengan membantu mereka yang baru datang sembari menegur mereka-mereka yang tidak berkepentingan langsung untuk menunggu di luar. Termasuk saya tentunya. Di bangku tunggu sebagian orang berkutat dengan hp mereka. Bagusnya tidak tampak orang-orang yang asyik merokok. Maklum terpampang perda larangan merokok disamping aturan di rumah sakit itu memang ketat.

Di banyak rumah sakit aturan ini kadang kerap dilanggar. Mungkin ada pemakluman, orang merokok untuk menghilangkan stress menunggu kerabat yang berada di IGD. Di sisi yang lain, beberapa orang sibuk dibagian administrasi. Entah untuk urusan pembiayaan atau mencari kamar untuk opname. Tidak berapa lama terdengar suara orang cekcok yang mengejutkan saya yang sedang asyik melihat televise. Tampak seorang wanita cekcok mulut dengan bapak-bapak. Beberapa orang kepo lalu merapat pada dua orang itu yang sedang dilerai oleh sekuriti. Ternyata soal pertanggungjawaban kecelakaan yang menimpa anaknya. Macam-macam hal bisa terjadi di area IGD, dan saya sampai pada sebuah titik. Bahwa tidak perlu sebuah permenungan yang dalam dengan berbagai filosofi untuk mencari tahu seberapa berharganya hidup kita ini untuk diri sendiri maupun orang lain.

Di tempat yang bernama IGD hal itu bisa kita temukan. Di luar itu, kita bisa melihat orang-orang yang mendedikasikan dirinya bagi keselamatan orang lain. Ok mereka memang dibayar untuk melakukan pekerjaan itu. Tapi saya melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang memang dipilih untuk itu. Ketika orang lain terlelap nyaman di rumah masing-masing, pekerja-pekerja itu harus terlibat dalam urusan hidup dan mati dengan segala dinamikanya. Masih segar dalam ingatan, sudah lewat tengah malam pun masih saja ada orang yang harus datang ke IGD itu. Benar adanya, IGD adalah tempat yang tidak pernah tidur.

sumber gambar: www.cunfuriji.com

21 Maret 2016

Sedia Kondom Sebelum....


“Apakah kamu punya kondom?” adalah petikan dialog dalam film Thailand bergenre semi horor berjudul “Swimmers”. Berkisah tentang kematian seorang gadis cantik di sebuah arena kolam renang. Film ini cukup lumayan dijadikan hiburan walau mungkin bagi penggila film horor, film ini tidak terlalu menegangkan. Dari sisi yang lain, ada nilai plus yang bisa dijadikan pembelajaran terutama bagi kaum muda. Bila dicermati ada 2 kali pertanyaan “ Apakah kamu punya kondom?” dalam film tersebut. Pastinya tentu pada adegan percintaannya yang menjadi bumbu tersendiri.

Bukan percintaan tempat tidur ala lelaki dan perempuan dewasa namun dilakukan oleh sepasang remaja yang menjadi tokoh sentral dalam film ini walau tidak dipertontonkan secara vulgar. Pacaran yang akhirnya menjurus pada hubungan intim diluar pernikahan memang melanggar norma, baik itu norma agama maupun norma masyarakat kita. Tetapi pada kehidupan nyata saat ini hubungan sex seperti itu sudah dijamak dilakukan. Kenyataan seperti itu sulit untuk dibantah karena survey-survey sudah sering menyebutkan angka yang semakin lama semakin tidak mengejutkan.

Kita bisa lihat dan baca di berbagai media bagaimana sepasang muda-mudi tertangkap basah sedang bermesum ria. Bagaimana kisah-kisah remaja putri yang terpaksa hamil dan bahkan ada yang melahirkan di toilet sekolah. Fakta ini tidak hanya berlaku di kota, gaya percintaan remaja di desa juga tidak jauh berbeda. Mereka yang berasal dari keluarga harmonis dan punya background agama kuat pun bisa melakukannya. Menanyakan apakah pasangan kamu punya kondom apa tidak itu penting nggak sih? Jika menyaksikan film “Swimmers” maka jawabannya adalah penting banget. 

Dalam film “Swimmers” ini digambarkan akibat-akibat yang ditimbulkan karena meremehkan penggunaan kondom. Pastinya ya soal kehamilan. Remaja putri yang hamil tentu punya banyak implikasi. Baik bagi dirinya sendiri maupun cowoknya. Rasanya pilihan untuk menikah ketika masih remaja sebisa mungkin dihindari oleh mereka. Bahkan kalau boleh tidak ada yang perlu tahu termasuk pihak orang tua. Lalu aborsi menjadi jalan pintas yang banyak diambil. Saya suka film ini karena sedikit banyak memberikan sex education. Digambarkan bagaimana situasi di ruang aborsi dan alat apa yang dipakai untuk mengambil janin. Tidak itu saja, bagi mereka yang sengaja memakai pil peluruh janin akan dihadapkan pada situasi yang sebenarnya cukup mengerikan seperti pendarahan hebat yang tentunya sakit sekali. Digambarkan pula bagaimana rupa janin kecil berwarna merah yang keluar dari hasil aborsi tersebut. 

Cukup miris untuk disaksikan. “Apakah kamu punya kondom?” “Tidak...” “Bagaimana jika aku hamil?” “Aku mencintaimu, percayalah..aku akan bertanggungjawab.” Ada berapa banyak laki-laki yang bersedia bertanggungjawab atas kehamilan pranikah? Apalagi jika statusnya masih pelajar-mahasiswa. Sama halnya apa yang dilakukan tokoh dalam film “Swimmers” yang punya banyak alasan untuk tidak bertanggungjawab. Apakah ini semua dari ‘kebodohan’ perempuan yang begitu mudah hanyut dan percaya oleh kata-kata manis laki-laki? Saya melihatnya lebih pada apa yang disebut dengan CINTA. Wanita jika sudah cinta apa saja akan diberikan, termasuk miliknya yang paling berharga. 

Pada akhirnya hubungan sex menjadi suatu rutinitas dan kebutuhan, tentu saja karena sensasi dan kenikmatannya. Pembaca yang budiman, saya tidak sedang mengajarkan siapapun untuk melakukan sex before marriage. Saya hanya menyarankan para gadis yang tidak lupa menanyakan “Apakah kamu punya kondom?” jika sedang diajak bercinta. Jika jawabannya adalah “tidak..” maka katakan juga “tidak..” biar sehebat apapun rayuannya. Walaupun mungkin dalam hati sudah mengukur perbandingan antara akan hamil dan tidak lebih besar yang tidak bakal hamil.

 Namun, ini persoalan hidup mati, persoalan masa depan yang sedang dipertaruhkan dalam kenikmatan beberapa menit itu. Jangan percaya bila laki-laki bilang jika ‘dikeluarkan’ diluar tidak bakal hamil. Atau sehabis ‘begituan’ si cewek lompat-lompat agar spermanya turun lalu cepat-cepat dicuci di kamar mandi. Dan banyak trik-trik konyol yang dijadikan argumen sehingga perempuan percaya jika berhubungan sex tanpa kondom itu aman dari kehamilan. Masih banyak pasangan muda yang berpikir jika hamil maka dengan mudah digugurkan dengan pil atau jamu apalagi jika terlambat menstruasi 1-2 bulan saja. 

Padahal kenyataan tidak sesederhana itu. Tidak sesederhana jika minum pil lalu haid akan datang normal seperti biasanya. Banyak kasus dimana perempuan mengalami pendarahan hebat sehingga perlu penanganan medis. Atau mengalami menstruasi panjang sampai janin keluar utuh maupun dalam berbagai bentuk. Pengguguran yang tidak bersih, yang tidak ditangani oleh dokter spesialis, disebut sebagai salah satu pencetus kanker rahim. Intinya pihak perempuanlah yang akan menjadi pihak yang paling menderita secara fisik maupun psikis. Guna menghindari dari permasalahan seperti itu jelas diperlukan ketegasan untuk selalu bertanya “ Apakah kamu punya kondom?”. 

Tidak perlu malu, sungkan, apalagi takut karena yang sering terjadi adalah enaknya sama-sama, tapi kalau hamil tidak mau tanggungjawab. Sungguh menyakitkan jika jawaban yang diterima ketika seorang laki-laki dimintai pertanggungjawaban adalah seperti ini: "Hamil...... itu betul anakku.....bukan sama cowok lain?" "Koq bisa hamil......khan waktu itu dikeluarin di luar!" atau "Bukannya kita melakukannya baru 1 kali!" "Gila... kita bisa dikeluarin dari sekolah.!" atau " Mati dah..bisa digantung bokap nih gue..." Putus asa, hidup masih ngekost. Tidak siap untuk jadi ayah dan ibu muda. Jalan pintas jelas akan diambil.

sumber gambar: sumsel.tribunnews.com

12 Desember 2013

Maaf, Kami Lebih Suka Berobat ke Penang

Bagi masyarakat Medan berobat ke luar negeri khususnya ke Penang Malaysia bukan sesuatu yang luar biasa. Anda tidak harus menjadi kaya raya untuk bisa mendapatkan pengobatan terbaik dari dokter aprofesional di rumah sakit-rumah sakit di Penang.


 
Bukan rahasia umum jika pelayanan dokter Indonesia itu kurang memuaskan. Sering salah diagnosa ditambah tarif dan harga obatnya yang luar biasa tinggi. Coba saja cek berapa laporan dugaan malapraktik yang pernah terjadi tahun ini? Angkanya luar biasa juga.Kalau kita simak surat pembaca di berbagai media cetak mengenai kekecewaan masyarakat terhadap pelayanan dokter/RS di Indonesia luar biasa juga banyaknya.Kembali ke persoalan orang Medan yang lebih memilih berobat ke luar negeri.
Anda boleh percaya boleh juga tidak, jika saya katakan bahwa berobat ke Penang misalnya jauh lebih murah daripada di Medan sendiri atau ke Jakarta. Menurut beberapa rekan dan tetangga yang berobat ke sana memang begitu faktanya.