25 Maret 2016

Nongkrong di IGD


IGD atau Instalasi Gawat Darurat buat sebagian besar dari kita adalah tempat yang patut dihindari. Amit-amitlah, jangan sampai masuk ke sana. Instalasi atau unit yang berada di di Rumah Sakit itu tentu saja bukan tempat yang menyenangkan. IGD atau UGD adalah sebuah tempat yang jangan sampai terlintas dalam pikiran kita. Sedemikian ‘horor’nya IGD bagi kita? Tentu saja, namanya saja ada embel-embel “Gawat Darurat”. Masuk ke sana bisa mengakibatkan kecemasan tingkat tinggi. Bisa tentang hidup-mati seseorang. Entah kita sendiri yang harus masuk ke situ atau kerabat.

Akhir tahun lalu saya harus beberapa kali mengantar kerabat yang sakit malam-malam ke rumah sakit. Masuk IGD rumah sakit yang biasa sampai rumah sakit terbesar di Palembang. Walau bukan diri sendiri yang saki, tetapi memang nyatanya bukan sebuah pengalaman yang menyenangkan. Dulu, dulu sekali ketika masih aktif menjadi relawan, mengantar orang masuk IGD sama sekali tanpa perasaan apa-apa. Ketika itu bersama unit ambulan boleh dikatakan cukup sering membawa korban kecelakaan atau rekan kampus ke IGD untuk pertolongan lanjutan setelah dilakukan pertolongan pertama.

Nongkrong di IGD ternyata membuka pikiran tentang beberapa hal. Satu yang terpenting bahwa HIDUP adalah sesuatu yang paling berharga di dunia ini. Apa yang orang cari baik itu pasien maupun paramedis adalah penyelamatan agar orang tetap hidup. Rumah sakit besar itu memiliki fasilitas yang cukup lengkap untuk segala penanganan. Ya tidak jauh dengan apa yang kita lihat di serial “ER”. Pasien dengan berbagai keluhan bisa disaksikana di sana. Beragam pemandangan bisa disaksikan. Mulai ambulan datang membawa seseorang dengan tubuh penuh luka. Bisa dipastikan dia korban kecelakaan.

Di salah satu bilik, terlihat seorang wanita dengan raut wajah sedih, sibuk mengurut-urut dahi istrinya yang tergolek lemah karena vertigo. Sedang anak perempuan mereka mengurut kaki ibunya. Tidak jauh dari situ tampak beberapa orang mengerubungi seorang pasien tua. Tersanding disebelahnya beberapa alat medis elektronik dengan suara ‘beep-beep’ yang memenuhi ruangan IGD. Dari balik tirai terlihat seorang wanita setengah-baya duduk ditepi tempat tidur. Ia begitu khusuk mendaraskan doa-doa. Matanya terpejam, tangannya bergerak pelan mengurutkan butir-butir tasbih Rosario. Dokter jaga dan para perawat begitu sigap menangani pasien seolah berpacu dengan waktu. Tidak ketinggalan petugas sekuriti yang harus rangkap jabatan dengan membantu mereka yang baru datang sembari menegur mereka-mereka yang tidak berkepentingan langsung untuk menunggu di luar. Termasuk saya tentunya. Di bangku tunggu sebagian orang berkutat dengan hp mereka. Bagusnya tidak tampak orang-orang yang asyik merokok. Maklum terpampang perda larangan merokok disamping aturan di rumah sakit itu memang ketat.

Di banyak rumah sakit aturan ini kadang kerap dilanggar. Mungkin ada pemakluman, orang merokok untuk menghilangkan stress menunggu kerabat yang berada di IGD. Di sisi yang lain, beberapa orang sibuk dibagian administrasi. Entah untuk urusan pembiayaan atau mencari kamar untuk opname. Tidak berapa lama terdengar suara orang cekcok yang mengejutkan saya yang sedang asyik melihat televise. Tampak seorang wanita cekcok mulut dengan bapak-bapak. Beberapa orang kepo lalu merapat pada dua orang itu yang sedang dilerai oleh sekuriti. Ternyata soal pertanggungjawaban kecelakaan yang menimpa anaknya. Macam-macam hal bisa terjadi di area IGD, dan saya sampai pada sebuah titik. Bahwa tidak perlu sebuah permenungan yang dalam dengan berbagai filosofi untuk mencari tahu seberapa berharganya hidup kita ini untuk diri sendiri maupun orang lain.

Di tempat yang bernama IGD hal itu bisa kita temukan. Di luar itu, kita bisa melihat orang-orang yang mendedikasikan dirinya bagi keselamatan orang lain. Ok mereka memang dibayar untuk melakukan pekerjaan itu. Tapi saya melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang memang dipilih untuk itu. Ketika orang lain terlelap nyaman di rumah masing-masing, pekerja-pekerja itu harus terlibat dalam urusan hidup dan mati dengan segala dinamikanya. Masih segar dalam ingatan, sudah lewat tengah malam pun masih saja ada orang yang harus datang ke IGD itu. Benar adanya, IGD adalah tempat yang tidak pernah tidur.

sumber gambar: www.cunfuriji.com

22 Maret 2016

Ilegal Viagra: Sperma Kering dan Racun Tikus


Beli kondom di apotek saja malu apalagi beli viagra...apa kata dunia? Eh sekarang khan jaman online shopping Tak ada yang bakal tahu beli barang begituan, tapi coba simak berita yang satu ini. Belum lama ini lembaga perlindungan konsumen Swiss memperingatkan masyarakat akan bahaya Viagra yang dibeli melalui internet. Hal ini sehubungan dengan makin maraknya pria Swiss mencari obat disfungsi ereksi itu secara online. Tanpa disadari obat-obatan yang mereka yakini sebagai viagra tersebut mengandung ternyata isinya sperma kering, bahkan  racun tikus! Menurut Michael Rudin, direktur Forum Konsumen Swiss, terjadi peningkatan yg drastis terhadap pembelian obat-obatan ilegal melalui internet.
Ada sekitar 300 ribu paket obat penambah stamina pria yang terjual di swiss tahun lalu. Pria yang mengalami disfungsi ereksi rupanya lebih memilih mencari viagra di toko online ilegal ketimbang viagra yang direkomendasikan oleh dokter. Disamping perasaan malu berkonsultasi tentang impotensi, alasan lain kenapa pria swiss mencari viagra via internet adalah harganya yang relatif murah. Murah. Harganya cuma 20 franc atau $21. Sesungguhnya ada bahaya yang mengancam dibalik membeli viagra secara ilegal yaitu konsumen tidak tahu pasti bahan yang terkandung dalam obat tersebut. Penelitian terbaru menunjukan bahwa viagra-viagra yang dibeli dari China dan India ternyata mengandung sperma kering dan racun tikus.
Di China sperma kering dianggap mampu meningkatkan kekuatan penis. Berapa laporan medis mencatat banyak kasus overdosis akibat mengkonsumsi obat-obatan yang diperoleh dari internet. Pihak Bea Cukai Swiss sendiri telah menyita 1300 paket obat-obatan ilegal sepanjang tahun lalu dan diperkirakan akan terus meningkat pada tahun ini. So, masih berminat mencari viagra via internet? Pikir seribu kali... jangan malu untuk berkonsultasi dengan dokter anda dari pada koit gara-gara racun tikus. 

disarikan dari The Local Swiss 02-07-2012 oleh Lyssandra Sears : Swiss Men Buying More Viagra Online

ilustrasi : www.viagralove.net

21 Maret 2016

Gereja Katolik Indonesia dan Permasalahan Narkoba


Saat ini ada sekitar 4 juta lebih pengguna narkoba di Indonesia. Dmand yang besar itulah Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial bagi peredaran narkoba. BNN sendiri hendak merubah paradigma yang selama ini berlaku dalam hal pemberantasan narkoba. Para pengguna tidak lagi dikenai hukuman penjara tetapi wajib menjalankan rehabilitasi. Karena itu dianggab satu-satunya cara yang paling efektif untuk menyelamatkan generasi muda.
Rehabilitasi pengguna narkoba sesuai dengan Undang-Undang no 35 tahun 2009 tentang narkotika. Indonesia juga coba mengikuti trend dunia, dimana banyak negara sudah menghilangkan hukuman penjara bagi pengguna narkoba. PBB sendiri ikut mengeluarkan deklarasi politik yang menganjurkan penanganan permasalaham narkoba harus dilaksanakan secara seimbang antara demand dan supply reduction.
Berangkat dari itu semua maka BNN mencanangkan bahwa tahun 2014 ini adalah Tahun Penyelamatan Pengguna Narkoba. Kepala BNN mengakui bahwa lembaga tersebut tidak bisa bekerja sendiri, maka diperlukan kerjasama dari berbagai elemen dari masyarakat. Narkoba bisa menyerang siapa saja, dari segala lapisan dan juga golongan. Tidak perduli suku dan agama, semuanya rentan terhadap penyalahgunaan dan masuk dalam lingkaran kejahatan narkoba.
Berkenaan dengan permasalahan narkoba, Gereja katholik Indonesia sendiri sudah menunjukan komitmen dan peran nyata berkenaan dengan narkoba. Gereja Katholik memandang bahwa telah terjadi krisis kehidupan yang besar pada permasalahan narkoba. Krisis tersebut tidak hanya melibatkan pengguna narkoba saja, melainkan juga keluarga. Sebuah surat gembala yang dikeluarkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia tanggal 15 November 2013 berjudul "Jadilah Pembela Kehidupan, Lawanlah penyalahgunaan narkoba" adalah bukti bahwa Gereja Katholik Indonesia memberi perhatian yang cukup besar terhadap permasalahan ini.
Pada poin no 9 dari Surat Gembala ini KWI menekankan pentingnya Rehabilitasi. GerejaKatholik memandang bahwa terhadap korban penyalahgunaan narkoba harus dirawat hinggah pulih. Menjebloskan mereka ke dalam penjarah bukan solusi. Dibagian lain juga disinggung soal usaha memulihkan korban perlu diadakan rumah rehabilitasi yang dikelola secara benar dan bertanggung jawab dengan pendampingan medis, psikologis, dan rohani. Untuk itu Rumah Sakit Katolik hendaknya secara pro-aktif ambil bagian dalam menolong korban penyalahgunaan narkoba. Surat Gembala ini sangat sesuai dengan misi BNN yang berupaya pengguna narkoba menjalani rehabilitasi lengkap
Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, peredaran dan penyalahgunaan narkoba cukup memperihatinkan. Salah satunya contohnya beberapa hari sebelumnya BNN berhasil melakukan penggerebekan dan penyitaan narkoba jenis sabu seberat 2 kilogram di sebuah rumah jalan Arif Rahman Hakim Medan. Banyak kerja nyata yang telah dilakukan dibawah Keuskupan Agung Medan selama ini. Seperti dibentuknya sebuah tim pelayanan yang secara proaktif mencari korban-korban narkoba. Salah satu langkahnya adalah dengan cara-cara persuasif serta terus  membuka diri terhadap curhat-curhat  yang bersifat confidential dan personal.
Sebagaimana kita ketahui bahwa ada banyak generasi muda korban narkoba yang sangat kesulitan melaporkan permasalahan mereka kepada orangtua. Keusukupan Agung Medan sendiri menghimbau pastoran, komunitas religius, sekolah-sekolah, klinik dan rumah sakit hendaknya menyediakan shelter bagi orang-orang yang berpotensi atau sudah menjadi korban narkoba. Sejauh ini sudah ada paroki-paroki yang menyediakan ruang belajar bagi anak-anak sekolah dan menggerakan perkumpulan orang muda katholik (OMK) untuk menghindari bahaya narkoba. Disamping itu mereka juga menyediakan ruang konsultasi, konseling dan juga mempersiapkan kamar tertentu untuk shelter yang bisa dipakai sebagai tempat berlindung dalam waktu terbatas.
Keusukupan Agung Medan menaungi sebuah pusat perawatan dan pemulihan adiksi yang dilakukan secara terpadu dan bersifat rujukan. Dalam hal ini Keuskupan Agung Medan telah bekerjasama Caritas PSE (Pengembangan Sosial Ekonomi) dan Tarekat KSSY (Kongregasi Suster Santo Yosef). Kongregasi yang berpusat di jalan Hayam Wuruk Medan itu mengelola sebuah rumah singgah bagi pengguna narkoba yang terletak di jalan Sei Asahan no. 36 dan juga pusat pelayanan rehabilitasi dan penanggulangan narkoba narkoba di jalan Bougenville. Didirikannya rumah singgah (shelter) bertujuan memberikan sebuah tempat dimana pengguna narkoba bisa share pengalaman, sekaligus menumbuhkan harapan dan kekuatan dalam pemulihan.
Salah satu tujuan didirikannya pusat perawatan dan pemulihan adiksi narkoba adalah mengembalikan fungsi sosial pengguna narkoba di tengah keluarga, lingkungan pekerjaan dan masyarakat umum. Beberapa tahapan yang harus dijalani oleh mereka yang benar-benar ingin menjalani rehabilitasi adalah mengikuti program tertentu seperti wajib rawat inap selama 6 bulan. Selama masa itu mereka akan menjalani tahapan detoksifikasi, pertemuan 12 langkah, konseling adiksi, sesi harian, pertemuan keluarga dan program pasca perawatan. Pastinya  pusat rehabilitasi yang dibuka pada tahun 2011 lalu itu tidak berjalan sendiri. Mereka bekerjasama juga dengan mitra-mitra strategis seperti Badan Narkotika Nasional Provinsi Sumut, Dinas Kesehatan Kota Medan, Satuan Narkoba Polrestabes Medan, beberapa puskesmas serta lembaga swadaya masyarakat yang mempunyai concern yang sama terhadap narkoba. Hanya sayang ketika penulis hendak menyambangi pusat rehabilitasi narkoba yang dikelola oleh suster-suster KSSY itu, mereka sedang tidak berada di tempat. Rupanya para biarawati pengelola saat ini sedang mendapatkan pendidikan dan pelatihan di Jakarta berkenaan dengan narkoba.
Kepedulian gereja katholik terhadap pengguna narkoba tidak hanya dilakukan di Keuskupan Agung Medan saja. Di beberapa kota lain di Indonesia, pendampingan terhadap korban-korban penyalahgunaan narkoba juga dilakukan. Panti rehabilitasi dan rumah singgah juga didirikan dibawah naungan keuskupan masing-masing sebagai karya kerasulan bagi pengguna narkoba. Biasanya melibatkan yayasan-yayasan dan kongregasi setempat. Salah satunya adalah Panti Rehabilitasi Narkoba terpadu Kedhaton Parahita yang ada di kawasan Sentul City, Bogor.
Panti ini dikelola 52 orang staff, termasuk psikolog, konselor, dan pembimbing spiritual. Panti ini juga dilengkapi sarana kapel, mushola, ruang konseling, ruang musik, sarana olah raga serta perpustakaan. Menariknya Panti ini tidak hanya diperuntukan bagi mereka yang beragama katholik saja.  Karya kerasulan dalam hal narkoba juga dilakukan di Keusukupan Bandung bersama Panti Rehabilitasi Narkoba "Sekar Mawar". Sedangkan di Sleman Yogyakarta para bruder yang tergabung dalam kongegrasi Fatum Caritas mendirikan lembaga rehabilitasi "Kunci" yang beralamat di Nandan.
Gereja hendak mengajak umat terutama keluarga untuk peduli terhadap permasalahan narkoba. Keluarga perlu membentengi anak-anak agar tidak terjerumus pada narkoba. Orangtua harus membuka komunikasi yang baik dengan anak-anak. Bila sudah anggota keluarga yang sudah menjadi pengguna, umat menjadi tahu kemana mereka harus mencari bantuan. Gereja memandang bahwa pengguna narkoba harus diselamatkan, dan bukan dicampakan. Gereja katholik memberi tempat tertinggi pada nilai-nilai kehidupan. Hidup sebagai pengguna narkoba yang dipandang orang sudah tiada arti itu hendak diperbaiki berganti dengan kehidupan baru. Bagi mereka yang belum jatuh pada masalah narkoba perlu untuk dijaga dengan perhatian yang juga besar. Salah tahu caranya adalah dengan meminta keluarga dan orangtua untuk sungguh-sungguh mencintai, mengenal dan memperhatikan anak secara cermat sebelum semuanya menjadi terlambat. Salam Indonesia bergegas, salam Indonesia bebas narkoba.

Referensi: 
http://www.karina.or.id/index.php/2012-10-24-04-02-12/kilas-berita/98-pusat-perawatan-dan-pemulihan-narkoba-keuskupan-agung-medan 

http://archdioceseofmedan.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=285:narkoba&catid=65:headline http://m.hidupkatolik.com/index.php/2014/02/06/karya-kerasulan-bagi-korban-narkoba

Sumber gambar: witbanknews.co.za

Sedia Kondom Sebelum....


“Apakah kamu punya kondom?” adalah petikan dialog dalam film Thailand bergenre semi horor berjudul “Swimmers”. Berkisah tentang kematian seorang gadis cantik di sebuah arena kolam renang. Film ini cukup lumayan dijadikan hiburan walau mungkin bagi penggila film horor, film ini tidak terlalu menegangkan. Dari sisi yang lain, ada nilai plus yang bisa dijadikan pembelajaran terutama bagi kaum muda. Bila dicermati ada 2 kali pertanyaan “ Apakah kamu punya kondom?” dalam film tersebut. Pastinya tentu pada adegan percintaannya yang menjadi bumbu tersendiri.

Bukan percintaan tempat tidur ala lelaki dan perempuan dewasa namun dilakukan oleh sepasang remaja yang menjadi tokoh sentral dalam film ini walau tidak dipertontonkan secara vulgar. Pacaran yang akhirnya menjurus pada hubungan intim diluar pernikahan memang melanggar norma, baik itu norma agama maupun norma masyarakat kita. Tetapi pada kehidupan nyata saat ini hubungan sex seperti itu sudah dijamak dilakukan. Kenyataan seperti itu sulit untuk dibantah karena survey-survey sudah sering menyebutkan angka yang semakin lama semakin tidak mengejutkan.

Kita bisa lihat dan baca di berbagai media bagaimana sepasang muda-mudi tertangkap basah sedang bermesum ria. Bagaimana kisah-kisah remaja putri yang terpaksa hamil dan bahkan ada yang melahirkan di toilet sekolah. Fakta ini tidak hanya berlaku di kota, gaya percintaan remaja di desa juga tidak jauh berbeda. Mereka yang berasal dari keluarga harmonis dan punya background agama kuat pun bisa melakukannya. Menanyakan apakah pasangan kamu punya kondom apa tidak itu penting nggak sih? Jika menyaksikan film “Swimmers” maka jawabannya adalah penting banget. 

Dalam film “Swimmers” ini digambarkan akibat-akibat yang ditimbulkan karena meremehkan penggunaan kondom. Pastinya ya soal kehamilan. Remaja putri yang hamil tentu punya banyak implikasi. Baik bagi dirinya sendiri maupun cowoknya. Rasanya pilihan untuk menikah ketika masih remaja sebisa mungkin dihindari oleh mereka. Bahkan kalau boleh tidak ada yang perlu tahu termasuk pihak orang tua. Lalu aborsi menjadi jalan pintas yang banyak diambil. Saya suka film ini karena sedikit banyak memberikan sex education. Digambarkan bagaimana situasi di ruang aborsi dan alat apa yang dipakai untuk mengambil janin. Tidak itu saja, bagi mereka yang sengaja memakai pil peluruh janin akan dihadapkan pada situasi yang sebenarnya cukup mengerikan seperti pendarahan hebat yang tentunya sakit sekali. Digambarkan pula bagaimana rupa janin kecil berwarna merah yang keluar dari hasil aborsi tersebut. 

Cukup miris untuk disaksikan. “Apakah kamu punya kondom?” “Tidak...” “Bagaimana jika aku hamil?” “Aku mencintaimu, percayalah..aku akan bertanggungjawab.” Ada berapa banyak laki-laki yang bersedia bertanggungjawab atas kehamilan pranikah? Apalagi jika statusnya masih pelajar-mahasiswa. Sama halnya apa yang dilakukan tokoh dalam film “Swimmers” yang punya banyak alasan untuk tidak bertanggungjawab. Apakah ini semua dari ‘kebodohan’ perempuan yang begitu mudah hanyut dan percaya oleh kata-kata manis laki-laki? Saya melihatnya lebih pada apa yang disebut dengan CINTA. Wanita jika sudah cinta apa saja akan diberikan, termasuk miliknya yang paling berharga. 

Pada akhirnya hubungan sex menjadi suatu rutinitas dan kebutuhan, tentu saja karena sensasi dan kenikmatannya. Pembaca yang budiman, saya tidak sedang mengajarkan siapapun untuk melakukan sex before marriage. Saya hanya menyarankan para gadis yang tidak lupa menanyakan “Apakah kamu punya kondom?” jika sedang diajak bercinta. Jika jawabannya adalah “tidak..” maka katakan juga “tidak..” biar sehebat apapun rayuannya. Walaupun mungkin dalam hati sudah mengukur perbandingan antara akan hamil dan tidak lebih besar yang tidak bakal hamil.

 Namun, ini persoalan hidup mati, persoalan masa depan yang sedang dipertaruhkan dalam kenikmatan beberapa menit itu. Jangan percaya bila laki-laki bilang jika ‘dikeluarkan’ diluar tidak bakal hamil. Atau sehabis ‘begituan’ si cewek lompat-lompat agar spermanya turun lalu cepat-cepat dicuci di kamar mandi. Dan banyak trik-trik konyol yang dijadikan argumen sehingga perempuan percaya jika berhubungan sex tanpa kondom itu aman dari kehamilan. Masih banyak pasangan muda yang berpikir jika hamil maka dengan mudah digugurkan dengan pil atau jamu apalagi jika terlambat menstruasi 1-2 bulan saja. 

Padahal kenyataan tidak sesederhana itu. Tidak sesederhana jika minum pil lalu haid akan datang normal seperti biasanya. Banyak kasus dimana perempuan mengalami pendarahan hebat sehingga perlu penanganan medis. Atau mengalami menstruasi panjang sampai janin keluar utuh maupun dalam berbagai bentuk. Pengguguran yang tidak bersih, yang tidak ditangani oleh dokter spesialis, disebut sebagai salah satu pencetus kanker rahim. Intinya pihak perempuanlah yang akan menjadi pihak yang paling menderita secara fisik maupun psikis. Guna menghindari dari permasalahan seperti itu jelas diperlukan ketegasan untuk selalu bertanya “ Apakah kamu punya kondom?”. 

Tidak perlu malu, sungkan, apalagi takut karena yang sering terjadi adalah enaknya sama-sama, tapi kalau hamil tidak mau tanggungjawab. Sungguh menyakitkan jika jawaban yang diterima ketika seorang laki-laki dimintai pertanggungjawaban adalah seperti ini: "Hamil...... itu betul anakku.....bukan sama cowok lain?" "Koq bisa hamil......khan waktu itu dikeluarin di luar!" atau "Bukannya kita melakukannya baru 1 kali!" "Gila... kita bisa dikeluarin dari sekolah.!" atau " Mati dah..bisa digantung bokap nih gue..." Putus asa, hidup masih ngekost. Tidak siap untuk jadi ayah dan ibu muda. Jalan pintas jelas akan diambil.

sumber gambar: sumsel.tribunnews.com

Linda, Menjadi Terang dalam Kegelapan


Di negara ini penyandang disabilitas masih banyak yang terpinggirkan. Belum banyak fasilitas yang diberikan bagi mereka. Kesempatan kerja pun masih minim. Pemberdayaan kepada mereka belum mencapai hasil maksimal. Banyak dari mereka yang harus mengais rejeki di jalan-jalan, berharap belas kasih sesama. 

Beruntung Presiden Jokowi mempunyai rencana untuk mendirikan pabrik yang bisa memperkejakan penyandang disabilitas. Walau begitu, tidak sedikit dari penyandang disabilitas yang mampu berprestasi. Mereka mampu keluar dari keterbatasan diri. Bahkan secara luar biasa menjadi sosok inspiratif bagi siapa saja. Termasuk wanita yang satu ini, Linda Augustine Kwa. 

Berikut rangkuman bincang-bincang saya bersamanya beberapa waktu yang lalu. Ia yang akrab dipanggil Linda adalah penyandang disabilitas tunanetra yang berhasil keluar dari stigma-stigma masyarakat. Stigma dimana penyandang disabilitas itu tidak mampu berbuat apa-apa. Stigma bahwa pendidikan itu tidaklah penting bagi seorang tunanetra. 

Wanita berusia 35 tahun ini ternyata mempunyai gelar S1 dibelakang namanya. Tahun 2003 Ia mampu masuk salah satu PTN terkenal di Medan. Dan pada tahun 2008 ia diwisuda sebagai sarja pendidikan bahasa Inggris. Kuliah di jurusan pendidikan bahasa Inggris bukan mudah. Bukan hanya belajar soal tenses semata atau sekedar menghafal vocabulary. Apalagi jurusan kependidikan, dimana mahasiswanya diharuskan mempelajari ilmu-ilmu untuk bisa menjadi pendidik yang baik. Bisa dibayangkan bagaimana kerasnya ia belajar ketika semasa itu ditengah keterbatasanya Sejak kecil Linda memang sudah menyukai bahasa Inggris. 

Beruntung ia memiliki orangtua yang concern terhadap pendidikan semua anak-anaknya. Sejak kecil Linda dan saudara-saudaranya dileskan bahasa Inggris. Orangtua Linda berpikir bahwa menguasai bahasa Inggris itu sangatlah penting. Dan orangtuanya tidak pernah membeda-bedakan Linda dengan saudaranya yang lain. Melihat keterbatasan anaknya orangtua Linda mengirimnya bersekolah di sekolah khusus tunanetra. Ketika SMA, Linda memutuskan untuk bersekolah di sekolah umum yaitu di SMA Cahaya yang ada di jalan Hayam Wuruk Medan. Disamping itu penyandang tunanetra memang didorong untuk bersekolah di sekolah umum pada tingkat SMA. Tujuannya agar mereka lebih mudah beradaptasi. 

Ketika saya tanya apakah tidak sulit bersekolah di sekolah umum? Linda mengakui bahwa ada beberapa pelajaran yang sulit untuk ia ikuti seperti pelajaran olah raga dan seni menggambar. Bersyukur bahwa selama ia bersekolah ia tidak pernah dibully oleh teman-temannya. Sekarang ia aktif di Pertuni (Perhimpunan Tunanetra Indonesia) Sumatera Utara. Namanya juga tercatat sebagai sebagai sekretaris HWDI (Himpunan Penyandang Disabilitas Indonesia) Sumatera Utara. Di Pertuni sendiri ia boleh dikatakan sebagai motor penggerak. Ia sering mengadakan pelatihan-pelatihan bagi penyandang tunanetra seperti halnya penggunaan komputer. Linda sendiri pernah mewakili Indonesia untuk ikut program pengenalan sebuah software khusus tunanetra di Penang, Malaysia. Sebagai kegiatan harian, Linda memberikan kursus bahasa Inggris dan komputer di rumah bagi anak-anak penyandang disabilitas seperti dirinya. 

Oh ya, Linda juga mahir menggunakan ponsel. Ia memperagakannya di depan saya bagaimana membuat atau menerima panggilan telepon. Termasuk mengirim pesan singkat. Terus terang saya agak heran dan kagum melihatnya. Lalu ia membocorkan rahasianya, bagi pengguna ponsel Android memang fitur khusus yang bisa dimanfaatkan bagi penyandang tunanetra. Silakan cari di bagian setting bagi pengguna Android. Linda menyadari bahwa menjadi penyandang tunanetra itu berarti mempunyai keterbatasan. Namun bukan berarti tidak mempunyai hak untuk diperlakukan sama seperti anggota masyarakat yang lain. Maka pada tahun 2009 ia maju untuk mengikuti test CPNS. Awalnya terjadi hambatan karena tes CPNS tidak didesain untuk penyandang tunanetra. Situasi itu sempat terangkat ke publik. Namanya sempat masuk media lokal dan nasional. Akhirnya pihak panitia mengijinkannya untuk ikut tes. Linda memang gagal untuk menjadi PNS. Namun niatnya sudah kesampaian, keinginan agar penyandang hak-hak penyandang disabilitas diperhatikan. Saya tidak bisa lama berbincang-bincang dengan Linda. Karena sebenarnya sebenarnya sedang mempersiapkan sebuah kegiatan yang melibatkan sekelompok orang muda dengan anggota Pertuni. Orang muda yang ingin berbagi empati dan ikut merasakan bagaimana hidup sebagai penyandang tunanetra. Dan Linda mengijinkan saya untuk meliput kegiatan tersebut. Di ruangan pertemuan sudah banyak yang hadir, baik itu kelompok muda maupun penyandang tunanetra. Setelah semuanya siap, Linda membuka acara dan memberikan beberapa kata pengantar.Terbetik kekaguman saya pada sosok Linda. Ia tidak canggung berbicara pada sebuah pertemuan yang dihadiri oleh banyak peserta. Semua lancar, ia berbicara seakan melihat semuanya. Salut saya ketika ia mampu mengkoordinir puluhan penyandang tunanetra lain untuk bisa mengikuti acara dengan baik. Sebagai penyandang disabilitas, 

Linda sudah membuktikan bahwa hidupnya tidak pernah sia-sia. Ia tidak menyerah begitu saja pada keadaan. Ia bekerja keras dengan keterbatasan buku-buku braille yang ada. Ia juga tidak ingin tertinggal oleh teknologi informasi yang saat ini berkembang di masyarakat.Apa yang sudah ia lakukan mungkin tidak banyak, namun bisa jadi hidupnya jauh lebih berarti dari mereka yang mempunyai kesempurnaan fisik. Linda tidak egois, tidak hanyak memikirkan kesuksesan dirinya sendiri. Ia selalu ingin berbagi, selalu ingin agar penyandang tunanetra lainnya harus bisa mandiri seperti dirinya.

Manfaat Fosfor pada Tubuh Manusia



Fosfor (Phosphorus) adalah salah satu mineral yang juga penting bagi tubuh manusia. Fosfor sendiri mempunyai hubungan dengan fungsi-fungsi sel dalam tubuh manusia. Fosfor memegang peranan dalam reaksi kimia dan berhubungan dengan zat-zat penting seperti enzim, protein dan hidrat arang.

Fosfor sangat penting bagi otot manusia. Tanpa fosfor maka kita tidak dapat mengangkat kening 
maupun menggerakan jari jermari. Fosfor juga berguna untuk menjaga keseimbangan asam basa agar selalu berada pada tahap normal. Satu hal yang nyata kegunaan fosfor adalah pembentukan tulang dan gigi yang kuat.

Dari mana kita mendapatkan mineral fosfor? Fosfor banyak terkandung dalam makanan yang juga banyak mengandung kalsium (lihat artikel ini). Selain itu fosfor terkandung dalam telur, daging, biji-bijian dan kacang-kacangan yang masih memiliki kulit ari.



Bagi mereka yang sedang dalam masa pertumbuhan harus cukup mengkonsumsi makanan yang mengandung fosfor. Dan juga bagi pasien yang sedang dalam proses penyembuhan dari penyakit serius dan juga mereka yang baru lepas dari operasi.

sumber gambar: www.organicfacts.net

Manfaat Kalsium pada Tubuh Manusia

sumber gambar:plantbaseddietitian.com

kalsium (calcium) atau yang lebih dikenal sebagai zat kapur adalah mineral yang paling banyak terdapat dalam tubuh manusia. Tulang manusia adalah tempat di mana kalsium berada. Sebagian kecil kalsium terdapat dalam alirah darah yang berguna untuk mencegah pendarahan yang serius.

Kalsium juga bermanfaat bagi urat saraf dan otot. Kekurangan kalsium pada saraf dan otor bisa membuat urat saraf dan oto menjadi peka dan sangat kejang. Perasaan kesemutan dan kaku serta nyeri pada sendi merupakan tanda kekurangan kalsium.

Kalsium pada otot jantung adalah yang terpenting. Kekurangan kalsium pada otot jantung bisa menyebabkan jantung kehilangan tenaga dan tidak teratur dan bahkan bisa berhenti. Maka dari itu sangat penting untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium.

Akibat Kekurangan Kalsium
Pada tulang kalsium dan fosfor bersenyawa untuk menguatkan dan mengeraskan kerangka dan susunan tulang dalam tubuh manusia. Para ibu yang sedang mengandung atau mereka yang baru melahirkan sangat memerlukan kalsium tambahan. Bagi anak-anak dan remaja kalsium sangatlah penting karena mereka dalam masa pertumbuhan yang cepat.
Di dalam tubuh terjadi hubungan kimia antara kalsium, fosfor dan vitamin D. Kekurangan salah satu diantaranya dapat menyebabkan gangguan serius pada kerangka tubuh. Pada anak-anak hal ini disebut Rachitis. Sedangkan pada orang tua dikenal sebagai Osteomalacia.
Rachitis pada anak-anak biasanya ditandai oleh tidur yang tidak nyenyak pada malam hari. Bila tidak segera diobati maka pertumbuhan anak akan terhambat. Tulang menjadi lemah sehingga anak lambat untuk duduk, berdiri hingga berjalan.
Pada penderita rachitis tahap awal, kaki-kaki tidak kuat menahan berat tubuh bagian atas sehingga membengkokan lutut serta persendian lainnya. Inilah yang menyebabkan kaki anak berbentuk O (genu varum) atau kaki berbentuk X (genu valgum). Hal lain dapat dilihat pada anak yang mengalami dada membusung (pigeon breast).

Sumber utama Kalsium adalah susu dan olahan susu lainnya seperti keju, sayuran hijau, buncis, brokoli. Kacangan seperti kedele banyak mengandung Kalsium. Sehingga mengkonsumi temped dan tahu sangat baik bagi pertumbuhan tulang. Pada kentang juga banyak terkandung kalsium disamping juga ikan.

Tetapi harus diingat bahwa kalsium tidak dapat serta merta diserap oleh tubuh kecuali tubuh memiliki cukup vitamin D yang dapat kita peroleh dari makanan lain. Vitamin D dapat kita peroleh dari minyak ikan. Tetapi ada baiknya harus berkonsultasi dengan dokter agar diberikan resep yang sesuai dengan kebutuhan.


Salah satu yang harus diingat adalah manusia harus mendapat sinar matahari yang cukup agar kalsium dan vitamin D dapat berproses secara maksimal dalam tubuh.